Blog ini berisi Khotbah dan Renungan Kristen yang dapat menolong saudara-saudara dalam mempersiapkan diri saat memimpin ibadah persekutuan. Baik ibadah jemaat maupun unsur-unsur PKB, PW, PAM dan PAR. Bahan ini semoga dapat menolong dan menjadi referensi bagi saudara-saudara. Tuhan Yesus memberkati kita semua....

Renungan Dan Khotbah

  • Kumpulan Khotbah Dan Renungan

    Blog ini menolong kalian sobat Inspirasi Kristen Dalam Mempersiapkan Bahan Khotbah dan juga Renungan serta berbagai Kreatifitas dan Games menarik yang dapat dipakai dalam setiap pelayanan

Imamat 25 : 1 - 7 " Tahun Sabat Tanah - Refleksi Ekoteologis

 

 "Tanah Butuh Istirahat : Manusia Butuh Taat"

(Refleksi Tahun Sabat dan Krisis Ekologi Papua)

Bacaan Alkitab : Imamat 25:1-7


Pengantar

Allah menetapkan sebuah pola hidup yang unik : Sabat Tanah setiap tahun ketujuh bagi bangsa Israel untuk memberikan waktu istirahat bagi tanah mereka. Berbicara tentang tanah terutama dalam kaitan budaya dan spritualitas lokal punya nilai penting bagi kitong orang Papua yang hidup di atas tanah ini. Banyak masyarakat Papua seperti suku Amugme, Dani atau Mee memiliki pandangan bahwa “Tanah itu Mama” atau sebagai ibu yang melahirkan/memberi hidup, memberi makan, merawat dan melindungi, sehingga merusak tanah itu sama seperti melukai ibu sendiri. Tanah juga merupakan identitas dan harga diri, ada suku tertentu yang dikenal karena wilayah adatnya jadi kalau tanah diambil,itu bukan hanya kehilangan tempat tinggal tetapi juga kehilangan nama, sejarah dan eksistensi. Dan tanah-tanah di Papua biasanya dimiliki secara kolektif oleh klan, marga atau suku bukan oleh individu.
Dan hal ini berlaku juga sampai pada aturan adat yang tidak tertulis tentang bagaimana berburu, bagaimana mereka mengambil pohon dihutan, tidak sembarang mereka tebang, berburu hanya secukupnya, mengambil hasil hutan/alam bahkan tanah dengan rasa syukur dan hormat.
Ini adalah ekoteologi alami -  bahwa manusia hidup bersama alam bukan menguasainya. Sehingga ada kedekatan nilai Alkitabiah “Tahun Sabat” dan kearifan lokal.

Penjelasan Teks

Sabat Tanah berarti, tanah pun harus mengalami ‘istirahat kudus’ bagi Tuhan, sama seperti manusia beristirahat pada hari ketujuh. Proses pelaksanaanya setiap tahun ketujuh seluruh tanah Israel wajib memasuki Sabat. Mereka tidak menabur dan tidak menuai secara normal, tidak ada menanam benih, membajak ladang atau panen. Hasil yang tumbuh sendiri boleh dipetik  dan dimakan oleh pemilik, budak, orang asing bahkan binatang, tetapi tidak boleh dipanen sebagai bisnis/kepentingan komersil.
Ini bukan sekedar aturan pertanian, ini adalah prinsip iman : Tanah bukan milik manusia, tetapi milik Tuhan (Imamat 25:25).  Dan Tuhan memanggil manusia untuk memelihara dan merawat bukan mengeksploitasi.
Namun hari ini,  dunia - termasuk Papua - menunjukan hal sebaliknya. Tanah terus dipaksa “bekerja”. Tidak ada sabat bagi bumi. Akibatnya kita melihat penderitaan  manusia dan kerusakan alam yang makin parah.
Beberapa kasus ekologis yang marak di Papua hari ini mencerminkan ketegangan antara eksploitasi sumber daya alam dan kelestarian lingkungan serta hak-hak masyarakat adat. Kitong lihat Deforestasi masif di Merauke, Proyek Strategi Nasional (PSN) perkebunan tebu dan padi mengakibatkan deforestasi lebih dari 22.000 hektar hutan primer, lahan basah dan padang  rumput . Kemudian Tambang Gasberg di  Papua Tengah, yang dioperasikan oleh Freeport – McMoRan telah lama menjadi sorotan karena praktik pembuangan limbah tambang langsung ke sungai Akjwa. Setiap hari sekitar 200.000 ton limbah dibuang. Menyebabkan pencemaran yang signifikan dan berdampak pada kesehatan masyarakat serta ekosistem sungai. Lalu juga Krisis Ekologi di Raja Ampat akibat Penambangan Nikel serta Ekspansi perkembangunan kelapa sawit di Papua Barat dan masih banyak lagi kasus yang terjadi dan tidak tersorot media.

Refleksi

Di Papua, banyak tanah adat dijual, disewa atau direbut oleh perusahaan demi tambang, kelapa sawit,  atau proyek-proyek besar. Masyarakat adat kehilangan tanah dan identitas. Alam kehilangan keseimbangannya. Ketamakan manusia telah menggantikan iman kepada Tuhan. Sabat Tanah adalah prinsip ekologis, perintah sabat tanah mengajarkan bahwa ciptaan butuh waktu untuk pulih. Ini bukan hanya  untuk tanaman, tapi untuk seluruh ekosistem. Ketika tanah dipanen tanpa henti, tanpa sabat, ia kehilangan kesuburan, daya hidup dan akhirnya mati.
Papua adalah paru-paru terakhir Indonesia, namun kerusakan lingkungan di Raja Ampat, Merauke, Pengunungan Tengah dst,. menunjukan bahwa kita tidak mempraktikkan makna sabat tanah dalam relevansinya hari ini. Tuhan tidak senang ketika tanah dipaksa terus menghasilkan bagi segelintir orang, tapi mengabaikan ciptaan dan keadilan. Krisis ekologi bisa dilihat sebagai konsekuensi rohani dari ketidaktaatan kolektif.
Gereja dipanggil untuk bersuara bagi keadilan ekologis, terutama di wilayah yang terus ditindas sistem ekonomi ekspolitatif. Menghidupi spritualitas sabat sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan pemeliharaan ciptaan. Papua menangis bukan hanya karena politik dan konflik, tetapi karena bumi yang lelah. Refleksi ini mengajak kita bertanya : Apakah kita masih menghormati Tuhan sebagai pemilik Tanah, ataukah kita sudah menggantikan-Nya ?
  Amin

Semoga Tulisan Ini Menjadi Berkat :)



Share:

IMAMAT 25:1-22 "TAHUN SABAT DAN TAHUN YOBEL"

 "Tahun Pembebasan"

Bacaan : Imamat 25:1-22

 
Pe
(Doc. Peletakan Batu Pertama Gedung Sekolah Minggu Rayon 2 GKI HIB Sorido)


A. Pendahuluan

Diminggu pertama bulan yang baru kita belajar pembacaan Alkitab dari Imamat 25:1-22  mengingatkan kita tentang tahun sabat tanah dan tahun yobel atau tahun pembebasan. Setiap orang pasti merindukan hidup yang adil,  cukup dan damai. Namun kenyataannya dunia seringkali ditandai oleh kesenjangan, penindasan dan eksploitasi sumberdaya. Bangsa Israel, ketika memasuki tanah Kanaan, diingatkan oleh Allah bahwa negeri itu bukanlah milik mereka secara mutlak, melainkan anugerah dan titipan dari Tuhan. Karena itu Allah menetapkan sebuah pola hidup yang unik : Sabat Tanah setiap tahun ketujuh dan Tahun Yobel pada tahun kelima puluh. Disini kita menemukan bahwa waktu, tanah, bahkan relasi sosial  bukan milik manusia melainkan milik Allah. Dan Allah memanggil umat-Nya untuk hidup dalam ritme istirahat, keadilan dan pemulihan.

B. Penjelasan Teks

Dalam bagian ini, Allah memberikan perintah tentang tahun sabat tanah dan tahun yobel.

a.       Tahun Sabat Tanah (Ayat 1 – 7)

Kata “Sabat” berasal dari bahasa Ibrani “shabbat” yang berarti berhenti, beristirahat, menenangkan diri. Jadi Sabat Tanah berarti, tanah pun harus mengalami ‘istirahat kudus’ bagi Tuhan, sama seperti manusia beristirahat pada hari ketujuh. Proses pelaksanaanya setiap tahun ketujuh seluruh tanah Israel wajib memasuki Sabat. Mereka tidak menabur dan tidak menuai secara normal, tidak ada menanam benih, membajak ladang atau panen. Hasil yang tumbuh sendiri boleh dipetik  dan dimakan oleh pemilik, budak,  orang asing bahkan binatang, tetapi tidak boleh dipanen sebagai bisnis.

Tradisi ini memiliki beberapa lapisan makna  : 

- Allah pemilik segala sesuatu

Imamat 25:25 “Tanah janganlah dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu  dan kamu hanyalah orang asing dan pendatang bagiku”. Sabat Tanah menegaskan bahwa tanah bukan milik absolut manusia tetapi milik Allah sebagai penciptanya. 

- Ketergantungaan kepada Allah

Tahun ketujuh, Israel tidak bisa bergantung pada hasil kerja mereka sendiri/hasil ladang yang ditanam dan dipanen. Dari sini mereka belajar bahwa berkat itu berasal dari Tuhan dan bukan semata-mata usaha manusia. Allah menjanjikan panen berlipat pada tahun keenam, cukup untuk tahun ke-7 (Tahun Sabat) dan tahun ke-8 hingga panen berikutnya (Imamaat 25:21-22).

- Keadilan sosial & ekonomi

Dengan membiarkan siapa saja (termasuk orang miskin/orang asing) memakan hasil panen dari tanah, Allah menciptakan akses makanan yang merata dalam pemeliharaanNya bagi semua orang.

 - Keseimbangan Ekologis

Secara praktis, tanah yang beristirahat menjadi subur kembali/kelestarian lingkungan. Jadi Tahun Sabat sebagai wujud nyata pemeliharaan Allah bukan hanya bagi manusia tetapi juga untuk alam ciptaan.

  

b.      Tahun Yobel (Ayat 8 – 22)

Setelah 7 kali Tahun Sabat (7x7 = 49), pada tahun ke-50 diadakan tahun Yobel. Diumumkan dengan tiupan sangkakala pada Hari Raya Perdamaian (Yom Kippur) oleh imam besar keseluruh negeri, setelah itu tahun ke-50 dimulai sebagai tahun Yobel. “Yobel” berarti tanduk domba jantan atau  sangkakala dan disebut juga “Tahun Pembebasan”. Jadi pada saat Tahun Yobel dua hal utama terjadi. Pertama “Pembebasan” semua tanah yang dijual harus dikembalikan ke keluarga asal. Budak Israel pun harus dibebaskan. Kedua “Kebebasan & Restorasi” semua orang kembali kepada keluarganya dan tanah kembali ke distribusi awal sesuai pembagian Musa (Yos.13 -21). Tradisi ini memiliki beberapa lapisan makna : 

- Allah pemilik segala sesuatu

Imamat 25:25 “Tanah janganlah dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu  dan kamu hanyalah orang asing dan pendatang bagiku”. Tahun Yobel menegaskan bahwa manusia hanyalah pengelola sementara bukan pemilik absolut.

- Allah sang pembebas

Israel pernah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Yobel mengingatkan mereka untuk tidak memperbudak sesama Israel selamanya.

- Keadilan & solidaritas sosial

Tahun Yobel menghentikan siklus penindasan ekonomi, ada redistribusi berkat sehingga tidak terjadi ketimpangan ekstrem.

- Simbol Eskatologis

Tahun Yobel menjadi gambaran profetis yang menunjuk kepada pembebasan rohani dan kosmik yang digenapi di dalam Kristus (Luk 4:18-19). 

Dengan demikian kekudusan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal keadilan sosial dan ekonomi. Allah ingin umatNya hidup merdeka, tidak diperbudak dengan utang, kemiskinan atau penindasan.

 

 C. Penerapan

Kedua tradisi ini memiliki nilai teologis dan etika kehidupan yang sangat relevan untuk jemaat hari ini. Mari kita lihat dari beberapa sisi :

   1.       Solidaritas Sosial

Mengajarkan gereja untuk tidak membiarkan orang miskin, lemah dan tertindas, terus terpuruk. Dalam praktiknya : pelayanan sosial, diakonia, advokasi keadilaan dan berbagi berkat dengan yang berkekurangan.

    2.       Kebebasan & Pemulihan

Tahun Yobel berbicara tentang kebebasan: dari hutang, penindasan dan perbudakan. Gereja hari ini memaknainya sebagai: membebaskan orang dari belenggu dosa, mendampingi mereka yang terikat masalah sosial (narkoba, kekerasan, hutang menjerat), memberi ruang pemulihan batin & relasi.

   3.       Keadilan Ekonomi

Tahun Yobel mencegah monopoli tanah dan kekayaan. Sehingga gereja dipanggil untuk menolong mereka yang tertindas oleh sistem yang tidak adil, tidak serakah dan menentang ekspolitasi.

    4.       Pengelolaan Alam

Sabat Tanah menekankan istirahat untuk bumi. Gereja hari ini dipanggil untuk mengajarkan, menggerakan dan menuntun umat dalam tanggung jawab ekologis : menjaga lingkungan dan kelestarian alam.

Kesimpulan :

Yobel dan Sabat tanah tidak lagi dijalankan secara harafiah dalam gereja. Tetapi prinsipnya sangat relevan: keadilan sosial, solidaritas, pembebasan dan pemulihan. Gereja dipanggil menjadi tanda kehadiran Kristus yang membawa tahun rahmat Tuhan bagi dunia – melalui  pewartaan injil, pelayanan sosial dan gaya hidup yang berbelas kasih. Jadi gereja tidak lagi meniup sangkakala atau mengembalikan tanah secara hukum, tetapi meniup “sangkakala Injil” : memberitakan pembebasan, memulihkan martabat manusia dan menghidupi keadilan Allah di tengah dunia. Amin

Semoga Tulisan Ini Menjadi Berkat :)

 

 


 


 

Share:

Roma 12 : 1 - 8 "Persembahan Yang Benar"

 "Kesehatian Dalam Persembahan Tubuh & Karunia Pelayanan"

Bacaan : Roma 12 : 1 - 8

                                         (Dokumentasi Setelah Ibadah Tahun Baru - GKI Pengharapan Sibena Permai)

Pengantar

Jemaat yang di kasihi Tuhan Yesus Kristus, shalom…
Hari ini kita ada pada hari ke-47, minggu ke-7 bulan Februari Tahun 2025. Dan disepanjang Triwulan I (Januari – Maret) kita akan belajar dari Firman Tuhan, dengan tema Triwulan yaitu “Sehati Dalam Hikmat Allah Menyembah Bapa, Anak & Roh Kudus”.
Dan Firman Tuhan yang menjadi dasar dalam minggu ini dari Roma 12:1-8 memberi arah pengajaran untuk kita sehati dalam hal penyembahan kepada Allah dalam 3 aspek :
-    Pertama, Persembahan tubuh
-    Kedua, Ibadah yang dikehendaki Allah
-    Ketiga yaitu Fungsi karunia dalam persekutuan
Sebab itu, Sinode GKI di Tanah Papua kemudian memberi tema bacaan  ini : “Kesehatian Dalam Persembahan Tubuh & Karunia Pelayanan”. Keseluruhan kitab Roma khusunya pasal 12- 15 ini membahas tentang Kekristenan dalam praktek. Pasal-pasal sebelumnya 1 – 11; adalah bagian-bagian dari Surat yang isinya asas-asas dan persoalan-persoalan. Paulus telah menguraikan secara mendalam tentang bagaimana orang dapat menjadi benar dan tetap dalam kebenaran dihadapan Allah. Dan sekarang Ia menerangkan hidup beriman dalam keadaan sehari-hari dan untuk menekankan pada pembaca kewajiban untuk hidup secara Kristen. 

Isi

Jemaat sekalian, hampir semua bentuk ibadah yang dilakukan mulai dari ibadah anak sekolah minggu, pemuda, kaum ibu, kaum bapak, lansia, ibadah hari minggu, ibadah keluarga dan lainnya melakukan pemberian persembahan sebagai korban syukur dan menjadi bagian dalam liturgi ibadah. Persembahan yang diberikan itu, dimaknai sebagai suatu bentuk penyataan iman dalam rasa syukur kepada Tuhan atas segala kasih dan berkat Tuhan yang dirasakan dalam hidup baik pribadi, keluarga dan persekutuan. Apa yang kita berikan hari ini sebagai persembahan bagi Tuhan ?
Kita memberi persembahan dalam bentuk uang untuk kemudian dipakai untuk menopang pekerjaan pelayanan/GerejaNya. Kita juga kenal hari ini dengan persembahan natura dalam ibadah kontekstual minggu ke-4.

Namun jika kita mendalami bagian Firman Tuhan disaat ini, yang berbicara tentang persembahan yang benar sesuai perikopnya, maka akan kita temui bahwa Paulus menekankan persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Dalam ibadah PL dalam kurban bangsa Israel… tubuh binatang yang hidup dimatikan untuk dipersembahkan di Mezbah Allah sebagai korban persembahan. Dalam PB Kristus menjadi Anak Domba Allah yang dipersembahkan untuk keampunan dosa manusia. Sehingga konsep memberi persembahan kepada Tuhan hari ini, tidak lagi berupa menyembelih hewan/korban untuk korban penghapusan dosa/korban keselamatan. Tetapi sebagai bentuk respon Iman kita kepada Allah di dalam Kristus atas pengorbanannya dan karya keselamatannya yang kita terima.
Penekanan Paulus tentang mempersembahkan Tubuh yang dimaksudkan pada ayat 1, tidak terlepas dari makna kata mempersembahkan…. “parastesai” – menyerahkan hidup kita – segenap jiwa dan raga. Namun tidak hanya itu, apa yang kita persembahkan itu mesti kudus dan berkenan kepada Allah. Itulah ibadah yang sejati. Karena mempersembahkan tubuh atau hidup kita pada Tuhan sebagai ibadah itu berarti bentuk sebuah pengabdian diri. Mengabdikan seluruh hidup kepada Tuhan. Jadi sebenarnya, bagian ini mau memperluas pemahaman kita tentang persembahan,….tentang ibadah… yang tidak terbatas hanya dalam unsur liturgis, atau di dalam gedung gereja bahkan persekutuan. Ibadah yang sejati ialah mempersembahkan tubuh kita kepada Allah dan semua yang dikerjakan oleh tubuh itu setiap hari sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan berkenan kepadaNya.

Hidup beribadah seperti itu, lanjut Paulus menuntut perubahan hidup secara radikal. Ayat selanjutnya ayat 2, kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi sebaliknya harus berubahlah oleh pembaharuan budimu. Untuk menyatakan gagasan ini Paulus menggunakan istilah Yunani yang akan saya jelaskan secara sederhana bagi kita saat ini. Istilah yang dipakai Paulus yaitu schema yang artinya bentuk luar yang selalu berubah-ubah dari tahun ke tahun dan dari hari ke hari. Jadi seseorang tidak sama ketika ia berumur 17 tahun dengan ketika ia berumur 70 tahun; tidak sama ketika ia berpakaian untuk bekerja dan ketika ia berada di rumah. Schema itu terus menerus berubah. Oleh karena itu Pulus berkata, “Janganlah berusaha menyesuaikan kehidupanmu kepada kebiasaan-kebiasaan dunia; jangan menjadi bunglon yang warnanya berubah-ubah, menurut lingkungannya. Kita tidak boleh menggunakan ketentuan-ketentuan dunia ini sebagai pedoman utama kita untuk bertindak, atau menjadikan kesukaan dunia ini sebagai tujuan akhir. Tetapi perubahan itu haruslah dalam rana pembaharuan budi, pembaharuan pikiran. Sehingga kemudian, kita dapat membedakan mana  kehendak Allah dan yang bukan kehendak Allah, apa yang baik dan yang tidak baik, dapat membedakan yang berkenan kepada Allah dan yang tidak berkenan kepada Allah; membedakan yang sempurna dan yang tidak sempurna.
Sehingga kecenderungan kita untuk terpengaruh, terbawa arus dengan semua yang ada dan ditawarkan oleh dunia dapat kita batasi karena apa ? Karena kita tahu batasan kita sebagai orang-orang percaya. Kita tahu ini yang Allah kehendaki dan ini yang tidak boleh kita lakukan dalam hidup kita karena tidak dikehendaki Allah.
Sehingga bagian ini memungkinan Jemaat di Roma tetapi juga orang-orang percaya untuk mempersembahkan tubuh mereka, bukan untuk berbuat dosa sebagai alat kejahatan, tetapi kepada Allah sebagai korban yang hidup dan untuk menggunan pikiran yang tidak berpusat pada daging, tetapi pada Roh, untuk dapat membedakan perbuatan-perbuatan seperti apa yang menyenangkan Allah.
Dengan demikian, maka ini akan terlihat atau nampak dalam kehidupan orang-orang percaya yang di gambarkan Paulus dengan tubuh manusia, yang meskipun banyak anggota tetapi satu tubuh dalam Kristus. Dan sama seperti banyak anggota dengan berbagai fungsinya yang berbeda, demikian karunia-karunia yang berlainan dianugerahkan  Tuhan, yang meskipun berbeda-beda namun semuanya itu berguna untuk pelayanan bagi Tuhan.
Disebutkan tujuh jenis karunia, yang bekerja dengan saling membantu dalam fungsinya di tengah persekutuan. Karunia bernubuat dalam artian sebenarnya mengarah kepada (berkhotbah/memberitakan Firman); karunia melayani, mengajar, menasehati; membagi-bagikan sesuatu; memimpin dan juga menunjukan belas kasihan. Tubuh yang telah dipersembahkan kepada Tuhan; hidup kita yang kita persembahkan harus benar-benar secara totalitas. Selain dari pembaharuan pola pikir kita, menjaga batasan hidup kita dari segala rupa dunia, dengan melakukan kehendak-kehendak Allah tetapi juga memanfaatkan segala potensi atau karunia yang Tuhan berikan untuk pekerjaanNya, bagi pelayananNya dan bagi Kemuliaan NamaNya. 

Penerapan

Sehingga persekutuan, Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita semua saya calon pelayan, bapak/ibu majelis/ bapak/ibu. sdar.i jemaat Tuhan :
1.    Mari merenungkan kembali persembahan apa yang kita bri pada Tuhan ? Apakah persembahan-persembahan kita berkenan dan menyukakan hati Tuhan sebagai sebuah ibadah yang sejati ?
Kita ingat bacaan Firman Tuhan di tanggal 19 Januari 2025 – Dari Kitab Mazmur 150:1-23. Tuhan Allah bilang….. semua yang Israel persembahkan adalah milik kepunyaanNya; lembu, kambing jantan, segala binatang hutan dan yang bergerak dipadang.
- Yang mengingatkan umat Allah bahwa ibadah tidak hanya tentang ritual korban, tetapi tentang ketaatan dan hati yang bersyukur.
- Menegur kemunafikan orang-orang Israel yang menjalankan ibadah secara lahiriah tetapi tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah.
- Mengajarkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang sejati dengan umat-Nya, bukan sekadar formalitas agama.
Sebab itu mari kita menyadari bahwa, hidup kita yang kita persembahkan kepada Tuhan jauh lebih berarti daripada persembahan yang kita bawa dan berikan kepada Tuhan.  Jadi jang bilang – sa tra datang ibadah jadi ss titip persembahan, atau ss tra datang ke ibadah karena trada persembahan. Hidup dan diri kita inilah persembahan bagi Tuhan.
Apa yang kita berikan bagi Tuhan dari segala kelebihan dan kekurangan kita, dipersembahakan sebagai respon iman kita atas semua yang Allah kasih untuk kita nikmati hari ini sebagai wujud syukur dan menyukakan hati Tuhan; dalam konteks ibadah secarah liturgis. Namun persembahan tubuh yang kita persembahkan kepada Tuhan, hidup kita dalam kekudusan itu berkenan dihadapan Allah sebagai ibadah kita kepadaNya. Sebab tadi… pengertian ibadah latreuin itu berarti pengabdian diri kepada Tuhan. Dalam upaya inilah kemudian kita mau untuk konsep pemikiran kita diubahakan sesuai Firman Tuhan, kita mau untuk hidup sesuai dengan apa yang berkenan bagi Tuhan.

2.    Karena hari ini banyak kita, lebih suka dan memilih untuk hidup serupa dengan dunia ini.
Kita mengikuti segala perubahan zaman, menyesuaikan diri kita lalu tanpa kita sadari, pembedaan itu sudah tidak ada. Waktu saya kuliah di jayapura, disitu selain STT I.S Kijne ada beberapa kampus yang dekat, ada Uncen, ada USTJ tapi dari semua mahasiswa/i itu, bisa dibedakan yang mana mahasiswa STT. Dari apa ? Cara mereka berpakaian. Analogi ini kemudian menghantarkan kita untuk melihat, seharusnya dari semua manusia yang hidup di dunia hari ini, kita bisa bedakan yang mana anak-anak Tuhan, yang mana orang-orang percaya.
Namun kenyataannya adalah, kita sudah menjadi serupa dengan dunia; kita menjadikan standar dan ukuran dunia untuk hidup kita hari ini dan bukan Firman Tuhan.
-    Ada masalah sedikit, bukan berdoa, minta pelayanan dan pendampingan dari hamba Tuhan tetapi mabuk-mabukan.
-    Masalah Rumah Tangga bukan diselesaikan sebagai keluarga Kristen tetapi pergi cari pelampiasan lain.
-    Ada persoalan yang dialami sesama kita dalam persekutuan, bukan saling menguatkan dan saling mendukung tetapi jadikan itu sebagai bahan cerita.
-    Persoalan ekonomi, keinginan memiliki lebih membuat kita mencuri, korupsi, mengambil apa yang menjadi hak milik orang lain dan bukannya bersyukur.
-    dst…. cara-cara yang dunia tawarkan, yang instan, cepat, menyenangkan, nikmat dan menguntukan inilah yang hari ini kita jalani.
Kita memang tidak bisa menghidari itu semua, selama kita masih hidup di dunia ini. Namun ingatlah bahwa dunia dan semaraknya begitu hebat hari ini, namun konsekuensi membawa kita kepada penghakiman di hadapan Tuhan.

3.    Sebab itu, bagian terakhir dari Firman Tuhan hari ini.
Selagi Tuhan memberikan bagi kita kesempatan untuk hidup dan berkarya di tengah dunia ini, dengan segala yang kita punya, bahkan karunia yang Tuhan anugerahkan…apapun itu kita pakai untuk kemuliaan namaNya. Untuk memimpin kh, untuk melayani kha…. untuk menyanyi, bermain musik, mengajar dst…. jang baku iri karena kemampuan yang lain lebih dari pada kita, setiap orang Tuhan bri karunia. Apapun itu semua berguna dalam pelayanan.
Dengan demikian, kita berupaya untuk terus mempersembahkan segala apa yang kita miliki serta hidup kita…. semuanya bagi Tuhan. Amin

Semoga Menjadi Berkat.

Tuhan Yesus Memberkati :)


 

Share:

Minggu Adven II - Lukas 3 : 1 - 20 "Yohanes Pembaptis"

 Menantikan Kristus Dengan Pertobatan Dalam Perbuatan Kasih, Keadilan Dan Rasa Syukur Selalu.

Bacaan : Lukas 3:1-20

(Doc. Jemaat GKI Pengharapan Sibena Permai)

 Pengantar

Bapak/ibu persekutuan jemaat yang diberkati Tuhan…
Syalom, hari ini pada minggu adven ke-2; masih dalam minggu-minggu penantian kita kembali merenungkan Firman Tuhan untuk terus menghantarkan kita dalam persiapan-persiapan menyambut dan merayakan kelahiran Kristus tetapi juga menatikan kedatanganNya.
Sebuah pertanyaan mengawali khotbah saya di pagi ini…..
Bapak/ibu apa itu bertobat ? hmmnn…
Kalau bertobat itu satu kali kh ? ulang-ulang kali kh ? atau 1 minggu 1x pas ibadah di gereja?
Lalu pentingkah pertobatan itu dalam kehidupan kekristenan atau kehidupan umat Tuhan ?


Isi

Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas mengawali dengan menyiapkan latar belakang pelayanan Yohanes Pembaptis. Ia menulis: “Pada tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes menjadi raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias menjadi raja wilayah Abilene, ketika Hanas dan Kayafas menjadi imam besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Tetapi mengapa menyebut semua orang ini, Tiberius Caesar, Pontius Pilatus, Herodes sang raja wilayah, Filipus sang raja wilayah, dan Lisanias sang raja wilayah? Mereka semua adalah tokoh politik di berbagai tingkat pemerintahan. Tiberius Caesar, sebagai kaisar Romawi, adalah orang paling berkuasa di dunia. Roma menguasai dunia, dan Tiberius adalah yang terakhir dalam jajaran Kaisar. Kaisar akan memiliki berbagai penguasa lokal yang memerintah di bawahnya di wilayah yang telah ditaklukkan Roma. 

Dengan memberi kita serangkaian nama ini, Lukas memberi tahu kita siapa tokoh politik terkemuka saat itu. Kemudian ia mengidentifikasi tokoh agama terkemuka, orang-orang penting dalam agama Yahudi: "selama masa jabatan imam besar Hanas dan Kayafas." Mengapa Lukas melakukan ini? Mengapa ia menyiapkan panggung bagi pelayanan Yohanes dalam hal ini? 

Pertama, pengantar ini memberi tahu kita bahwa peristiwa-peristiwa ini benar-benar terjadi dalam sejarah. Ini bukan mitos atau khayalan yang dibuat-buat. Tidak, ini adalah sejarah manusia yang nyata dan membumi. Kedua, Lukas memberi tahu kita bahwa sementara semua orang penting ini duduk di kursi kekuasaan mereka, hal-hal besar yang sedang dilakukan Tuhan tidak terlalu diperhatikan. “Firman Allah datang kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.” Yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi dengan Firman Tuhan. Ketiga, dengan menulis pengantar seperti ini, Lukas memberi tahu kita satu hal lagi. Dia membandingkan Yohanes Pembaptis dengan para nabi Perjanjian Lama. Ini adalah gaya yang sama seperti "narasi panggilan" nabi Perjanjian Lama. Lukas memberikan pengantar yang sama untuk pelayanan Yohanes Pembaptis. Apa maksudnya? Lukas mengatakan bahwa sama seperti Firman Tuhan datang kepada para nabi di Perjanjian Lama, agar mereka memanggil umat Allah untuk bertobat dan beriman sebelum kedatangan khusus Allah, demikian pula sekarang firman Tuhan datang kepada Yohanes, agar dia memanggil orang-orang untuk bertobat dan beriman, sebelum kedatangan Yesus. Sesuatu yang besar akan terjadi, dan Allah mengutus seorang nabi terlebih dahulu untuk mengumumkan berita itu dan mempersiapkan jalannya

Sebelum Lukas mulai membahas tentang Kristus, Ia membahas lenih dulu tentang pendahulu dari Sang Mesias yaitu Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis digambarkan dalam Injil Lukas sebagai orang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Raja. Dia mempersiapkan jalan sebagaimana yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama oleh nabi  Yesaya. Melalui Yesaya, Tuhan memberi tahu kita bahwa seorang nabi akan datang yang akan mempersiapkan jalan bagi Mesias. Dia menyerukan suara pertobatan. Dia mempersiapkan umat (Yes. 40:3-5), "Persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun; setiap gunung dan bukit akan diratakan; (jalan) yang berliku-liku akan diluruskan; (jalan) yang berlekuk-lekuk akan diratakan; dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. Perhatikan dalam Yesaya 40 bahwa ada analogi tentang jalan raya. Ketika raja-raja zaman dahulu bepergian di padang gurun, para pekerja mendahului mereka untuk membersihkan puing-puing dan meratakan jalan agar perjalanan menjadi lebih lancar. Bagian Yesaya menggunakan bahasa hiperbolik – tidak hanya batu-batu disingkirkan dari jalan, tetapi lembah-lembah ditimbun dan gunung-gunung disingkirkan. Bahasa metaforis itu menggambarkan pertobatan – umat Allah dipersiapkan untuk kedatangan Allah melalui pertobatan. 

Dalam konteks Yesaya pada saat itu, ia bernubuat tentang keselamatan bangsa Israel yang ada di pembuangan, yang menanti-nantikan kebebasan dan kelepasan di Babel. Dan dalam konteks Yohanes Pembaptis, ia menyerukan kelepasan dan keselamatan yang akan dikerjakan Allah di dalam pribadi Yesus Kristus. Agar kehadiran Yesus diterima dan pekerjaan penyelamatan itu terlaksana, maka semua orang harus bertobat. Namun secara tersirat nubuatan ini sebenarnya juga merujuk kepada Yohanes Pembatis sendiri. Kita tentu ingat kisah tentang kelahirannya ketika malaikat Tuhan menjumpai Zakharia dan berbicara tentang anak yang akan dikandung Elisabeth, Luk. 1 : 16 – 17 “Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Ia akan berjalan mendahului Tuhan, membuat hati bapa berbalik kepada anak-anaknya, dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia mempersiapkan suatu umat yang siap sedia bagi Tuhan.

Ketika Yohanes Pembaptis tampil dan berbicara, ia berbicara dengan begitu tegas dan keras, kepada semua orang yang hadir pada saat itu.
“Bertobatlah supaya kamu mendapatkan pengampunan dari Tuhan, berbaliklah dari dosa-dosamu”. Dan ketika orang-orang banyak datang untuk memberi diri dibaptis, Yohanes Pembaptis tidak langsung membaptis mereka. Ia berbicara dan menegur mereka dengan begitu keras “siapa bilang kamu bebas dari murka Allah? Kamu bangga karena kamu keturunan Abraham? Aku berkata kepadamu Allah dapat membangkitkan keturunan bagi Abraham dari batu-batu ini”. Ini khotbah yang benar-benar tidak pandang bulu. Yohanes juga menekan soal penghakiman atau murka Allah. dikatakan bahwa Abraham bukanlah jaminan keselamatan bagi orang-orang Israel, meski mereka meyakini bahwa Abraham adalah leluhur mereka yang mana Tuhan berkenan menyatakan janji kepada Abraham, tapi itu bukanlah jaminan untuk selamat dari dosa dan hukuman kekal. Maka dari itu Yohanes meminta agar setiap orang menghasilkan buah-buah pertobatan yang baik dan benar dalam hidup mereka agar keselamatan itu layak mereka terima. Karena semua orang pasti akan dihakimi dan siapa yang menghasilkan hidup sesuai dengan buah pertobatan tidak akan binasa, dan yang dibinasakan adalah orang-orang yang hidupnya tidak berbuah dalam pertobatan.

Hari ini, kalau hamba Tuhan bicara tentang dosa dengan keras dari mimbar, umat tidak suka mendengar. Telinga kita lebih suka mendengar khotbah-khotbah yang menyenangkan, khotbah-khotbah yang menghibur yang hanya bicara tentang penyertaan Tuhan, yang hanya bicara tentang berkat Tuhan. Tapi kalau sudah bicara tentang kesalahan, bicara tentang dosa, kita mulai tersinggung dan marah. Padahal sebenarnya tanpa kita sadari teguran Tuhan itu selalu datang dengan berbagai cara kepada kita, untuk membawa kita kepada pertobatan dan pembaharuan hidup yang benar. Dan salah satu cara yang Tuhan pakai adalah melalui pemberitaan Injil atau pemberitaan Firman.Yohanes memaparkan sikap yang seharusnya ketika seseorang mengalami pertobatan, maka orang yang bertobat harus menunjukkan kasih, keadilan dan rasa syukur.

Para pemungut pajak yang dibenci datang bertanya kepada Yohanes apa yang harus dilakukan. Ia memberi tahu mereka untuk tidak mengambil lebih dari yang diminta dari orang-orang. Yohanes Pembaptis mengatakan “jangan pungut lebih dari yang seharusnya”, ini nasihat yang sangat praktis. Yohanes Pembaptis mengatakan “engkau punya tugas apa, jangan ambil lebih”. Kepada para pemungut pajak yang tamak, korup, dan dibenci, ia tidak menyuruh mereka meninggalkan pekerjaan mereka. Yohanes tidak tertarik pada revolusi sosial. Ia menyuruh mereka untuk bersikap jujur, tidak tamak. Tunjukkan integritas. Inilah buah pertobatan. Para prajurit bertanya apa yang harus mereka lakukan. Yohanes memberi tahu mereka untuk merasa cukup dengan upah mereka dan tidak memeras uang dari orang-orang. Yohanes memberi mereka cara-cara praktis untuk menunjukkan kemurahan hati, integritas, keadilan, dan kepuasan. Ia memberi tahu mereka agar tidak menggunakan wewenang dan senjata untuk mengintimidasi dan mengancam orang serta memeras uang, tetapi bersikap puas.Kamu dapat apa, nikmatilah apa yang Tuhan percayakan, jangan mau lebih dengan cara yang tidak benar. Pemungut cukai boleh mengerjakan pekerjaannya, asalkan pajak yang dipungut sesuai dengan kebijakan pemerintah. Tentara harus mengerjakan tugasnya dan tidak boleh mengambil lebih dari tugasnya. Yohanes Pembaptis mengatakan “cukupkan dengan gajimu”.
Apa yang membuat kita benar-benar hidup dengan baik hanya satu yaitu kalau saya merasa apa yang Tuhan berikan itu cukup, saya mendapatkannya dengan jalur yang baik, saya tidak merugikan siapa pun, saya mengambil tanpa peras siapa pun. Tapi kalau Saudara mendapatkan dengan merugikan orang lain, peras orang lain, Saudara berada dalam bahaya besar karena Tuhan akan mengancam dan memusuhi Saudara. Ini yang Yohanes Pembaptis peringatkan kepada para tentara. 

Jadi siapa yang berlimpah uang, Yohanes Pembaptis mengingatkan jangan serakah. Siapa yang kurang, Yohanes Pembaptis mengingatkan jangan merasa kurang karena ini adalah dorongan untuk memeras orang lain, menipu orang lain demi kepentingan diri. Jadi inilah satu nasihat simple dari Yohanes Pembaptis untuk menantikan Kristus. Kristus sudah mau datang, hidup dengan baik. Bagaimana hidup dengan baik? Tunjukkan buah pertobatan. Bagaimana buah pertobatan? Kalau lebih ingat orang lain yang kurang, kalau rasa diri kurang jangan mau ditipu, jangan peras orang orang. Dan Tuhan nanti akan memberkati dan memimpin kita.
Kita selalu diingatkan untuk terus setia kepada cara hidup yang berkenan menghasilkan buah yang diperkenan Tuhan dan memberkati banyak orang, menunjukan kasih dalam hidup kita, menyatakan keadilan kepada sesama dengan senantiasa bersyukur kepada Tuhan.


Penerapan

Seruan Yohanes Pembaptis ini sebenarnya merupakan seruan rohani bagi umat Tuhan, baik dahulu maupun sekarang. Kita diperintahkan untuk mempersiapkan hati dan hidup selayaknya untuk menyambut kehadiran-Nya. Jalan hidup kita harus diluruskan. Lembah, yaitu hati yang putus asa dan jauh dari Tuhan, harus ditimbun dengan percaya dan penuh pengharapan hanya kepada-Nya. Gunung dan bukit kesombongan kita harus diratakan. Cara hidup kita yang berliku-liku, yang seenaknya dan tidak benar, harus diluruskan. Jalan hidup yang berlekuk-lekuk, tidak stabil, dan tidak konsisten dalam iman harus dikuatkan. 

Bertobat supaya ada jalan yang siap. Jalan apa yang harus disiapkan? Ini jalannya, jalan supaya ada yang menyambut Kristus waktu datang. Bagaimana siapkan jalan itu?
Kita pun menantikan kedatangan Sang Raja untuk kedua kalinya nanti. Kita yang menantikan Yesus datang pun, harus hidup dalam buah pertobatan sejati. Yohanes Pembaptis mengatakan “siapa bilang kamu selamat? Mana buah pertobatannya? Tidak perlu beri tahu kamu keturunan siapa, namun tunjukan buah pertobatanmu

Dan pertanyaan yang sama pula datang kepada kita hari ini..... “Orang Kristen, kamu sudah bertobat, mana buah pertobatanmu, ada atau tidak?”.
Mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen saja tidak cukup !
Mengatakan bahwa kita selalu pergi ke gereja saja tidak cukup !
Mengatakan bahwa saya dulu seorang majeli bertahun-tahun; atau hari ini saya seorang majelis saja tidak cukup !
Mengatakan bahwa saya yang memberi lebih banyak dalam pekerjaan Tuhan saja tidak cukup.

Firman Tuhan hari ini katakana : “Mana buah pertobatanmu ?”
Ini yang harus kita miliki sebagai bentuk penantian kedatangan Kristus, yaitu pertobatan dan tindakan pertobatan. Sebab buah dari pertobatan kita menunjukan bahwa kita sudah ada dalam keselamatan, yang menyelamatkan, yaitu iman kita kepada Kristus.
Sebab kalau sudah bertobat…. Jemaat Tuhan
Kita tidak boleh lagi berbalik kepada dosa dan kejahatan.
Sebab kalau hari ini tong datang ke gereja, minta ampun untuk kita pu dosa bicara orang, iri hati, kedengkian, dendam dan akar pahit, dosa mencuri, dosa kekerasan, dosa perzinahan….
Lalu keluar pintu gereja kita kembali melakukan hal itu, maka itu bukan pertobatan. Kita seperti peribahasa yang dikatakan dalam 2 Petrus 2:22 “Anjing kembali ke muntahnya dan babi kembali ke kubungannya”. Kita mempermainkan Kasih dan Anugerah Tuhan yang telah berkenan menjumpai kita, supaya kita mengalami keselamatan itu.

Karena itu marilah kita kembali merenungkan bagian ini.
Sudahkan kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatang Kristus ? Maknai minggu-minggu adven ini dalam pertobatan yang sungguh. Ya… Kristus datang segera. Amin

 

Semoga Jadi Berkat :)




Share:

Perintah Tuhan Kepada Yosua Untuk Merebut Tanah Kanaan - Yosua 1:1-18

KETEGUHAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN

Bahan Bacaan : Yosua 1:1-18



(Dokumentasi Rapat Triwulan Klasis GKI Nabire 29 Agustus 2023)

 

Pengatar

Bapak, ibu Persekutuan Jemaat yang diberkati Tuhan…
Berbicara tentang tantangan…
Dalam perjalanan kehidupan kita, seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Baik tantangan yang berasal dari diri kita sendiri karena suatu keadaan yang kita alami, tantangan dari keluarga dalam kehidupan rumah tangga, dalam dunia kerja antara kita dengan pimpinan atau dengan sesama rekan kerja, atau juga dalam lingkup persekutuan dan pelayanan bergereja. Tantangan-tantangan itu yang kita tahu seperti apa bapa/ibu ?
Kesulitan finansial/ekonomi sebab inflansi yang terus terjadi mengakibatkan semakin hari harga barang dan kebutuhan semakin mahal; perubahan zaman dengan segala perkembangannya seperti ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang sudah merasuk dalam segala rana kehidupan menyebabkan ketergantungan sampai menguasai segala bidang hidup kita, menjadikan manusia pecandu media sosial dan tidak bisa mengontrol diri; kejahatan, ketidakadilan, kekerasan, korupsi/pencucian uang, perselingkuhan & perzinahan serta perceraian, pergaulan bebas, pesta pora dan kemabukan, gereja yang kian waktu berjalan semakin berkurang dan hampir-hampir kosong dst ….. 

Tidak ada orang yang bisa menghindar dari semua tantangan ini, mau kita ke ujung dunia manapun tantangan itu pasti kita temui. Semua hal-hal tadi dapat menjadi pemicu dan menyebabkan kemudian dalam diri, kita merasa putus asa, kecewa, tidak ada rasa damai, kegelisahan, gentar tapi juga rasa takut. Demikian pula kita melihat baik Yosua dan bangsa Israel, ada dalam sebuah tantangan yang harus mereka hadapi, tantangan kini ada dihadapan mereka.

Teks

Bagian pasal 1 dari kitab ini dimulai dengan kalimat “sesudah Musa hamba TUHAN itu mati”. Kita tahu seperti pembacaan kita diminggu lalu bahwa Musa yang sudah 120 tahun tidak dapat giat lagi untuk memimpin bangsa itu tapi juga Allah sendiri telah menyampaikan bahwa Ia tidak akan menyebrang kesana tetapi hanya dapat melihat negeri itu dari kejahuan saja (Ul.34:4). Kita belajar tentang sebuah suksesi, tentang sebuah pengkaderan, dimana tongkat estafet kepemimpinan itu harus diserahkan dari Musa kepada orang yang telah pilih oleh Allah yaitu Yosua. Kita lihat yhaa, khusus bagian ini, bahwa ketika Tuhan Allah mempunyai pekerjaan besar yang harus diselesaikan, Ia sendiri yang akan menyediakan orang-orang pilihanNya agar pekerjaan dan karya Allah atas umatNya itu terus berjalan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan. Kini setelah kematian Musa, Yosua-lah  yang berdiri untuk memimpin bangsa itu. Dari ayat 1 – 18 saya membaginya menjadi 4 bagian untuk menolong kita agar dapat memahami keseluruhan bacaan ini :

1. Ayat 1 – 9 Yosua menerima perintah dan janji Allah

Tuhan Allah memberikan perintah kepadaYosua, bersiaplah sekarang, sebrangilah sungai Yordan, ke negeri yang Kuberikan kepada mereka. Kita melihat bahwa janji Allah kepada bangsa Israel untuk menduduki tanah perjanjian akan segera tergenapi. Bahkan dalam perintah diawal ayat 2, kita melihat sebuah tantangan bagi Yosua. Membawa bangsa itu memasuki tanah kanaan dengan menyebrangi sungai Yordan. Sungai yang mengalir sekitar kurang lebih 60 mil antara danau Galilea hingga laut mati. Tidak ada lewat jalan lain. Perintah itu jelas bahwa mereka harus menyebrangi sungai Yordan untuk dapat sampai ke tanah Kanan. Dan perintah itu kemudian diikuti dengan janji penyertaan Tuhan.  Setiap tempat yang diinjak diberikan Tuhan kepadanya dan bangsa Israel sebagaimana janji Tuhan Allah. Dari padang gurun, Gunung Libanon, sampai ke Sungai Efrat, seluruh daerah orang Het sampai ke Laut Besar. Bangsa itu belum menyebrang kesana, mereka belum memasuki tanah Kanan tetapi Allah telah menyampaikan yakni setiap tempat yang akan menjadi milik kepunyaan bangsa itu, yang diberikan oleh Allah sendiri. Sebab seperti Allah menyertai Musa, Ia juga akan menyertai Yosua. Tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan baik oleh Yosua dalam tugasnya berkenan dengan tantangan yang akan dihadapi bersama dengan bangsa itu :

•    Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Sebab engkau akan pimpin bangsa ini. Tugas ini bukan tugas yang enteng dan ringan. Bukan sekedar bawa mereka pergi Kanaan. Yosua akan pimpin bangsa yang besar yang jumlahnya tidak sedikit. Kita atur orang dengan jumlah 200-300 saja terkadang sulit. Apalagi ini atur satu bangsa yang begitu banyak jumlahnya. Walaupun memang mereka yang akan masuk tanah Kanaan ini genarasi baru tetapi karakter mereka tidak jauh berbeda dengan generasi yang sebelumnya, tidak jauh berbeda dengan mereka yang dihukum Allah di padang gurun karena kedegilan hati mereka. Tetapi juga penduduk yang ada di Kanaan pada saat itu orang Het, orang Yebusi, orang Amori, orang Hewi dan orang Girgasi, bahkan orang Kanaan sendiri Alkitab katakan tinggi besar seperti raksasa bahkan kotanya sendiri yang memiliki banteng dan kubu pertahanan dengan tembok-tembok. Kalau kita lihat kalimat ‘kuatkan dan teguhkanlah hatimu” ini diulang beberapa kali dalam bagian ini. Itu berarti menjadi penegasan untuk sesuatu yang penting. Mengapa Tuhan Allah tidak mengatakan kepada Yosua, kuatkan Fisikmu, tenagamu, kekuatanmu tapi Tuhan katakan kuatkan dan teguhkanlah hatimu ? Sebab bukan mereka yang nanti berperang untuk mengalahkan bangsa itu, melainkan Allah. Sebab Allah yang akan menyebrang di depan mereka dan memusnahkan bangsa-bangsa itu sehingga bangsa Israel dapat memiliki negeri itu (Bacaan kita minggu lalu Ul.31:3). Makanya yang Tuhan Allah minta adalah kuatkan dan teguhkanlah hati untuk tetap percaya dan berpengharapan hanya kepadaNya.

•    Dengan bertindak hati-hati sesuai sesuai dengan hukum yang telah mereka terima

•    Tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri

•    Selalu memperkatakan dan merenungkannya

Supaya kemudian perjalananmu berhasil dan engkau akan beruntung.(bdk. Im.26; Maz. 1). Yosua harus menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman dan penuntun, tidak memimpin dan bertindak mengikuti pikiran dan kemauannya, karena tanggung-jawab yang diemban itu datang dari Tuhan, maka Tuhan akan menyertainya memberi kekuatan dan kemenangan.

2.    Ay. 10-11 Perintah Yosua kepada para pengatur pasukan bangsa Israel

Perhatikan disini apa yang disampaikan oleh Yosua kepada para pengatur pasukan. Pergi ke seluruh perkemahan dan sampaikan kepada bangsa itu menyiapkan bekal sebab dalam 3 hari mereka akan menyebrang.Perintah Yosua bukan kemudian sebuah perintah untuk menyusun strategi militer dalam perlawanan terhadap orang-orang Kanaan untuk beperang. Dia memberi petunjuk kepada mereka untuk menyiapkan bekal; untuk menyiapkan makanan serta petunjuk sebab dalam 3 hari mereka akan menyebrang ke negeri yang diberikan Allah kepada mereka. Dia hanya menyuruh mereka melakukan persiapan untuk perjalanan memasuki nnegeri yang Tuhan Allah berikan kepada mereka.

3.    Ay. 12 -15 Kesepakatan bersama Orang Ruben, Gad & Stengah Suku Manasye

Persetujuan dengan orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah bahwa orang laki-laki mereka akan berperang bersamanya, sementara para perempuan dan anak-anak tinggal di tanah mereka di sebelah timur sungai Yordan. Dua stengah suku yang meminta dan menerima warisannya di sebelah timur sungai Yordan tidak melupakan janji yang telah mereka ucapkan sebelumnya kepada Musa. Mereka siap menyebrangi sungai Yordan dan membantu sesama bangsa Israel menaklukan wilayah barat (bdk. Bil. 32:1-33).

4.    Ay 16 – 18 Komitmen Ketaatan Pada Yosua

Respon bangsa itu dengan sebuah komitmen. Mereka menjanjikan kepada Yosus ketaatan (Ay.16). Semua yang engkau perintahkan kepada kami akan kami lakukan dengan senang hati, tanpa bersungut-sungut, tanpa berselisih dan kemanapun engkau mengirim kami bahkan kendatipun berbahaya kami akan pergi. Mereka berdoa agar penyertaan Allah ada bersama-sama dengan Yosua.

 Penerapan

1. Kuatkan & Teguhkan Hati

Apakah arti dari kuatkanlah hatimu? Kuatkanlah hati sinonim dengan bernai, tidak takut. sedangkan teguh berarti kuat/tetap/tidak goyah/tidak mudah terpengaruhi atau diombang-ambingkan. Kita perlu yang yang namanya menguatkan dan meneguhkan hati kita tetap percaya dan berpengharapan, mengandalkan Tuhan terlebih khusus ketika kita mengahadapi berbagai tantangan dan ada pada situasi sukar sulit dan berat, saat kita sedang mengalami sakit berat dan tidak sembuh-sembuh. kita perlu menguatkan hati, kalau kondisi keuanganmu sedang krisis dan penagih hutang terus menerormu. kita perlu menguatkan hati pada saat sedang mengalami masalah-masalah atau sedang tertekan karena persoalan rumah tangga dengan pasangan hidup kita, kita perlu menguatkan hati ditengah-tengah pergaulan anak-anak kita yang mungkin semakin tidak bisa di atur dan di control, atau juga mungkin sulitnya mencari pekerjaan dst…. Bagian ini kemudian membutuhkan hati yang teguh dan kuat untuk tetap percaya kepada Tuhan. Mengapa ? karena bisa saja ketika bagian-bagian yang saya sebutkan tadi kita alami, maka tentu akan membuat kita mudah khawatir dan bimbang, putus asa bahkan mungkin mempertanyakan kuasa Tuhan dan hidup kita.

Perintah untuk menguatkan hati datang kepada Yosua, kuat dan teguh, bertindak hati-hati dan tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri. Inilah yang harus diperhatikan tetapi juga harus dilakukan oleh Yosua. Inilah yang sebenarnya menjadi fokus utama bagi Yosua, bagian yang harus dikerjakan olehNya.Sebab penyertaan Tuhan itu ada,ay. 5 seperti bagaimana Tuhan menyertai Musa demikianlah Ia akan menyertai Yosua hambaNya itu. Supaya perjalananNya akan berhasil dan ia akan beruntung.Bagian ini kamudian mengingatkan kita perkataan Yesus dalam pengajarannya dari Injil Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semuanya itu akan ditambahkanNya kepadaMU” Itulah Firman Tuhan, asalkan engkau taat dan setia melakukan kehendakKu, asalkan engkau tidak menyimpang ke kanan dan kek kiri, asalkan engkau mencari Aku dalam hidupMu. Maka engkau akan berhasil dan beruntung dalam pekerjaanmu, Karirmu pendidikanmu, keluargamu, rumah tanggamu, usahamu, pelayananmu, cita-citamu, dan seterusnya. Sebab Aku ini, Tuhan menyertai engkau dan tidak akan membiarkan Engkau Kalau tahun sebelumnya Tuhan menjadi nomor sekian setelah pekerjaan kita, setelah kesibukan kita. Kalau tahun sebelumnya pekerjaan pelayanan bukan lagi menjadi bagian penting bagi kita, kalau tahun sebelumnya begitu banyak alasan kita berikan untuk menolak pekerjaan pelayanan dan persekutuan. Ingalah Firman Tuhan hari ini.

2. Jangan Lupa Tuhan

Karna nasihat berikutnya adalah kalau mau berhasil jangan lupaTuhan, jangan habiskan waktu untuk kesibukan tugasmu sampai Tuhan dan Firman-Nya diabaikan. Ingat Tuhan berarti ingat Firman-Nya dan berpegang pada petunjuk-petunjuk-Nya. Artinya, jangan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dan kemampuan tehnis yang dimiliki. Andalkan Tuhan dan Kuasa-Nya yang tak terbatas itu kalau ingin berhasil dalam pelaksanaan tugasmu dan beruntung, ini petunjuk Tuhan yang jelas kepada Yosua. Sebab kesibukan mengurus tugas itu juga akan menguras waktu dan itu yang membuat orang bisa melupakan Tuhan dalam hidupnya.  Disinilah peringatan Tuhan dari awal sangat penting bagi kita, agar tetap ingat akan Tuhan, dekat dengan Firman-Nya dan ber-Ibadah kepada-Nya, melayani-Nya, ada dalam persektuan denganNya.

3. Tuhan Selalu Menyertai

Janji Allah yang mendasar kepada Yosua -- "Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" -- juga merupakan komitmen Allah kepada semua orang percaya di dalam pergumulan iman mereka (Mat 28:20; Ibr 13:5-6; bd. Ul 31:6;). Karena tugas ini harus dilihat sebagai amanat Tuhan, maka Tuhan juga yang menjamin untuk menyertai. Karena penyertaan Tuhan itulah maka Yosua diminta untuk tidak takut, jangan kecut dan tawar hati. Ini peringatan penting yang menguatkan dan menopang setiap pelaksanaan tugas yang besar dan berat, dan dengan demikian memiliki kepastian dan keteguhan hati untuk menjalani tugas yang mulia.  Tetapi jaminan penyertaan Tuhan itu kekuatan bagi kita. Jaminan penyertaan Tuhan itu juga kekuatan yang mampu memampukan kita untuk berjalan dalam seluruh kehidupan serta pelayanan kita di tahun ini, Ia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan kita sendiri, karena Dialah Immanuel, Allah yang selalu menyertai kita. Atas dasar keyakinan inilah, maka kita menjalani tahun ini dengan penuh sukacita. Amin 


Semoga Menjadi Berkat :)

 

Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Khotbah & Renungan

Yohanes 15:1-8 "Pokok Anggur Yang Benar"

  HIDUP YANG BERBUAH  DALAM KRISTUS Bahan Bacaan : Yohanes 15:1-8  Pengantar Persekutuan Jemaat yang diberkati oleh Tuhan… Kita bisa mengena...

Postingan Terbaru