Blog ini berisi Khotbah dan Renungan Kristen yang dapat menolong saudara-saudara dalam mempersiapkan diri saat memimpin ibadah persekutuan. Baik ibadah jemaat maupun unsur-unsur PKB, PW, PAM dan PAR. Bahan ini semoga dapat menolong dan menjadi referensi bagi saudara-saudara. Tuhan Yesus memberkati kita semua....

Renungan Dan Khotbah

Imamat 25 : 1 - 7 " Tahun Sabat Tanah - Refleksi Ekoteologis

 

 "Tanah Butuh Istirahat : Manusia Butuh Taat"

(Refleksi Tahun Sabat dan Krisis Ekologi Papua)

Bacaan Alkitab : Imamat 25:1-7


Pengantar

Allah menetapkan sebuah pola hidup yang unik : Sabat Tanah setiap tahun ketujuh bagi bangsa Israel untuk memberikan waktu istirahat bagi tanah mereka. Berbicara tentang tanah terutama dalam kaitan budaya dan spritualitas lokal punya nilai penting bagi kitong orang Papua yang hidup di atas tanah ini. Banyak masyarakat Papua seperti suku Amugme, Dani atau Mee memiliki pandangan bahwa “Tanah itu Mama” atau sebagai ibu yang melahirkan/memberi hidup, memberi makan, merawat dan melindungi, sehingga merusak tanah itu sama seperti melukai ibu sendiri. Tanah juga merupakan identitas dan harga diri, ada suku tertentu yang dikenal karena wilayah adatnya jadi kalau tanah diambil,itu bukan hanya kehilangan tempat tinggal tetapi juga kehilangan nama, sejarah dan eksistensi. Dan tanah-tanah di Papua biasanya dimiliki secara kolektif oleh klan, marga atau suku bukan oleh individu.
Dan hal ini berlaku juga sampai pada aturan adat yang tidak tertulis tentang bagaimana berburu, bagaimana mereka mengambil pohon dihutan, tidak sembarang mereka tebang, berburu hanya secukupnya, mengambil hasil hutan/alam bahkan tanah dengan rasa syukur dan hormat.
Ini adalah ekoteologi alami -  bahwa manusia hidup bersama alam bukan menguasainya. Sehingga ada kedekatan nilai Alkitabiah “Tahun Sabat” dan kearifan lokal.

Penjelasan Teks

Sabat Tanah berarti, tanah pun harus mengalami ‘istirahat kudus’ bagi Tuhan, sama seperti manusia beristirahat pada hari ketujuh. Proses pelaksanaanya setiap tahun ketujuh seluruh tanah Israel wajib memasuki Sabat. Mereka tidak menabur dan tidak menuai secara normal, tidak ada menanam benih, membajak ladang atau panen. Hasil yang tumbuh sendiri boleh dipetik  dan dimakan oleh pemilik, budak, orang asing bahkan binatang, tetapi tidak boleh dipanen sebagai bisnis/kepentingan komersil.
Ini bukan sekedar aturan pertanian, ini adalah prinsip iman : Tanah bukan milik manusia, tetapi milik Tuhan (Imamat 25:25).  Dan Tuhan memanggil manusia untuk memelihara dan merawat bukan mengeksploitasi.
Namun hari ini,  dunia - termasuk Papua - menunjukan hal sebaliknya. Tanah terus dipaksa “bekerja”. Tidak ada sabat bagi bumi. Akibatnya kita melihat penderitaan  manusia dan kerusakan alam yang makin parah.
Beberapa kasus ekologis yang marak di Papua hari ini mencerminkan ketegangan antara eksploitasi sumber daya alam dan kelestarian lingkungan serta hak-hak masyarakat adat. Kitong lihat Deforestasi masif di Merauke, Proyek Strategi Nasional (PSN) perkebunan tebu dan padi mengakibatkan deforestasi lebih dari 22.000 hektar hutan primer, lahan basah dan padang  rumput . Kemudian Tambang Gasberg di  Papua Tengah, yang dioperasikan oleh Freeport – McMoRan telah lama menjadi sorotan karena praktik pembuangan limbah tambang langsung ke sungai Akjwa. Setiap hari sekitar 200.000 ton limbah dibuang. Menyebabkan pencemaran yang signifikan dan berdampak pada kesehatan masyarakat serta ekosistem sungai. Lalu juga Krisis Ekologi di Raja Ampat akibat Penambangan Nikel serta Ekspansi perkembangunan kelapa sawit di Papua Barat dan masih banyak lagi kasus yang terjadi dan tidak tersorot media.

Refleksi

Di Papua, banyak tanah adat dijual, disewa atau direbut oleh perusahaan demi tambang, kelapa sawit,  atau proyek-proyek besar. Masyarakat adat kehilangan tanah dan identitas. Alam kehilangan keseimbangannya. Ketamakan manusia telah menggantikan iman kepada Tuhan. Sabat Tanah adalah prinsip ekologis, perintah sabat tanah mengajarkan bahwa ciptaan butuh waktu untuk pulih. Ini bukan hanya  untuk tanaman, tapi untuk seluruh ekosistem. Ketika tanah dipanen tanpa henti, tanpa sabat, ia kehilangan kesuburan, daya hidup dan akhirnya mati.
Papua adalah paru-paru terakhir Indonesia, namun kerusakan lingkungan di Raja Ampat, Merauke, Pengunungan Tengah dst,. menunjukan bahwa kita tidak mempraktikkan makna sabat tanah dalam relevansinya hari ini. Tuhan tidak senang ketika tanah dipaksa terus menghasilkan bagi segelintir orang, tapi mengabaikan ciptaan dan keadilan. Krisis ekologi bisa dilihat sebagai konsekuensi rohani dari ketidaktaatan kolektif.
Gereja dipanggil untuk bersuara bagi keadilan ekologis, terutama di wilayah yang terus ditindas sistem ekonomi ekspolitatif. Menghidupi spritualitas sabat sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan pemeliharaan ciptaan. Papua menangis bukan hanya karena politik dan konflik, tetapi karena bumi yang lelah. Refleksi ini mengajak kita bertanya : Apakah kita masih menghormati Tuhan sebagai pemilik Tanah, ataukah kita sudah menggantikan-Nya ?
  Amin

Semoga Tulisan Ini Menjadi Berkat :)



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Khotbah & Renungan

Yohanes 15:1-8 "Pokok Anggur Yang Benar"

  HIDUP YANG BERBUAH  DALAM KRISTUS Bahan Bacaan : Yohanes 15:1-8  Pengantar Persekutuan Jemaat yang diberkati oleh Tuhan… Kita bisa mengena...

Postingan Terbaru