Blog ini berisi Khotbah dan Renungan Kristen yang dapat menolong saudara-saudara dalam mempersiapkan diri saat memimpin ibadah persekutuan. Baik ibadah jemaat maupun unsur-unsur PKB, PW, PAM dan PAR. Bahan ini semoga dapat menolong dan menjadi referensi bagi saudara-saudara. Tuhan Yesus memberkati kita semua....

Renungan Dan Khotbah

Yohanes 15:1-8 "Pokok Anggur Yang Benar"

 

HIDUP YANG BERBUAH  DALAM KRISTUS

Bahan Bacaan : Yohanes 15:1-8 

Pengantar

Persekutuan Jemaat yang diberkati oleh Tuhan…
Kita bisa mengenali sebuah pohon terutama jenis yang menghasilkan buah bukan hanya dari daunnya, batangnya atau tinggi dan besarnya, tetapi juga terutama dari buah yang dihasilkan. Buah adalah bukti bahwa pohon itu hidup, bertumbuh dan menjalankan fungsinya. Dalam dunia pertanian atau kebun, atau juga kita yang memiliki tanaman pohon di pekarangan rumah, para petani rela menanti berbulan-bulan, juga bertahun-tahun demi melihat satu pohon tersebut menghasilkan buah. Mereka tahu bahwa buah adalah hasil akhir dari proses panjang :  dari benih yang ditanam, akar yang menancap, batang yang menguat, hingga ranting yang menjulur. Semua tahapan itu menuju satu tujuan yakni “berbuah”. Hari ini bacaan Firman Tuhan dari Yohanes 15:1-8 berbicara bagi kita dibawa tema yaitu “Hidup Yang Berbuah Dalam Kristus”.

Isi

Bacaan ini merupakan sebuah analogi atau perumpamaan yang Yesus gunakan untuk menggambarkan hubungan antara diri-Nya, Bapa dan orang percaya. Yesus memberikan pengajaran dengan memakai gambaran yang sangat dikenal oleh para murid, gambaran tentang kebun anggur yang umum di Israel. Pertama Yesus menyebut diri-Nya sebagai Pokok Anggur, Bapa sebagai Pengusaha dan manusia sebagai ranting.

Ayat 1 – 2 & 5a : Pokok Anggur, Ranting & Pengusaha : Simbol Hubungan Yang Menghidupkan dan Berbuah

Apa hubungan antara ketiga ini ? Hubungan antara pokok anggur, ranting dan pengusaha.

Pokok Anggur : Dimulai dengan Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur. Apa itu pokok anggur ? Jemaat Tuhan, tanaman anggur adalah jenis tanaman merambat, tanaman ini tumbuh dengan batang utama (pokok) yang menjadi pusat aliran nutirsi, bagian yang menumbuhkan ranting, daun, bunga dan akhirnya menghasilkan buah anggur. Pokok anggur meliputi akar, batang, cabang dan seluruh struktur tanaman yang menopang dan menghidupi buah. Pokok anggur menggambarkan sumber kehidupan rohani. Seperti batang utama yang mengalirkan makanan dan kekuatan ke seluruh bagian tanaman. Yesus adalah pusat dan sumber kekuatan bagi orang percaya. Tanpa Dia ranting tidak bisa hidup apalagi menghasilkan buah.

Ranting : adalah cabang-cabang yang melekat pada pokok anggur, bergantung sepenuhnya pada pokok untuk mendapatkan nutrisi dan kehidupan. Tanpa pokok, ranting tidak bisa bertahan hidup apalagi berbuah. Menggambarkan murid-murid atau orang percaya yang harus tinggal tetap dalam Kristus agar menghasilkan buah. Jika terlepas, mereka akan kering, tidak berguna dan akhirnya di buang.

Pengusaha Kebun Anggur : Bertugas memelihara dan merawat pokok anggur agar tetap produktif. Dia memangkas ranting yang tidak berbuah dan menjaga kondisi agar ranting yang melekat bisa tumbuh dan berbuah maksimal. Menggambarkan Allah yang memelihara dan memperhatikan. Ia bukan hanya mengawasi, tetapi aktif membentuk dan menata kehidupan orang percaya agar selaras dengan kehendakNya. Semua ini menunjukan bahwa kehidupan rohani orang percaya tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada Kristus sebagai sumber kehidupan dan dibentuk oleh Allah Bapa yang secara aktif memelihara dan membentuk mereka.

Ayat 2 – 5 : Bagaimana Supaya Orang Percaya Dapat Hidup Menghasilkan Buah ?

Supaya orang percaya dapat hidup menghasilkan buah, ada dua hal penting yang diajarkan Yesus pada ayat 2 – 5 ini :

Pertama (ay. 2-3), Yesus berkata bahwa setiap ranting yang sudah berbuah, dipangkas atau dibersihkan oleh Bapa agar dapat berbuah lebih banyak. Proses ini menggambarkan tindakan Allah dalam menyucikan, membentuk dan mendisiplinkan orang percaya. Dalam konteks ayat 3, Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya, sudah bersih karena Firman yang Ia sampaikan. Artinya, Firman Tuhan memiliki kuasa untuk menyucikan hati dan pikiran umat, mengoreksi jalan hidup dan menuntun pada pertobatan dan hidup yang berkenan. Maka, orang percaya yang tekun mendengar, merenungkan dan melakukan Firman, sedang menjalani proses pembersihan ilahi, agar kehidupannya semakin serupa dengan kehendak Allah dan menghasilkan buah.

Kedua (ay. 4-5), Yesus menekankan pentingnya tinggal di dalam Dia, seperti ranting tinggal melekat pada pokok anggur, kata “tinggal” (yunani : meno) menunjuk pada hubungan terus menerusmm intim dan konsisten. Orang percaya tidak dapat menghasilkan buah  dari dirinya sendiri, sama seperti ranting tidak bisa terlepas dari pokoknya. Hanya ketika  hubung itu dijaga melalui doa, ketaatan, persekutuan dan ketergntungan yang sepenuhnya kepad Kristus barulah kehidupan orang percaya dapat menghasilkan buah yang sejati, yaitu karakter rohani, ketaatan, kasih serta kesaksian hidup yang memuliakan Allah

Ayat 6 : Ranting Yang Tidak Tinggal Dalam Pokok

Ayat ini adalah peringatan serius dari Yesus tentang konsekuensi dari ‘tidak tinggal di dalam Dia’. Setelah sebelumnya Yesus menjelaskan berkat dan keindahan hidup yang tinggal di dalamNya (Ay. 4-5). Bagian ini menjelaskan setiap orang yang tidak tinggal di dalam Kristus, orang-orang yang mengaku percaya tetapi tidak memelihara hubungan yang hidup dengan Kristus. Mereka bisa saja aktif secara lahiriah, namun tidak memiliki keterikatan secara spiritual yang sejati; hidupnya kehilangan makna rohani; kering sacara iman dan tidak berguna. Menjadi kering dan dibakar adalah gambaran penghakiman. Ranting kering dikumpulkan dan dibakar adalah bahasa simbolik yang kuat tentang hukuman kekal. Ini bukan sekadar ancaman, tetapi realitas bahwa tanpa Kristus, tidak ada hidup.

Menegaskan kepada kita bahwa tanpa tinggal di dalam Kristus, tidak ada buah dan tanpa buah tidak ada kehidupan. Orang percaya dipanggil untuk menjaga hubungan sejati, karena hanya di dalam Kristus kita menemukan hidup yang berbuah, bermakna dan kekal. Memperingatkan kita agar jangan hanya puas menjadi bagian dari komunitas Kristen/persekutuan tapi tidak sugguh-sunguh tinggal di dalam Kristus.

Ayat 7 : Hidup Dalam Firman, Berdoa Dalam Kehendak Tuhan

Bukan hanya tinggal di dalam Kristus, tetapi juga Firman-Nya tinggal di dalam kita. Ketika Firman tinggal di dalam seseorang, maka seluruh cara pandangnya, keinginannya dan pertimbangannya akan dibentuk dan diarahkan oleh kehendak Allah. Maka saat Yesus berkata “mintalah apa saja yang kamu kehendaki”, itu bukan janji tanpa batas. Ini adalah janji yang bersyarat – permintaan yang lahir dari kehidupan yang telah menyatu dengan Kristus dan diselaraskan oleh FirmanNya. Orang seperti ini tahu apa yang baik dan benar untuk diminta. Doanya bukan lagi soal ego pribadi, melainkan tentang kehendak Tuhan digenapi dalam hidupnya.

Dengan kata lain, buah dari tinggal dalam Kristus adalah hidup dalam kehendak-Nya dan buah dari Firman yang tinggal di dalam kita adalah doa yang benar, yang dijawab. Jadi ayat ini tidak mengajarkan teologi ‘doa otomatis dikabulkan’ tapi tentang kualitas relasi yang menghasilkan kehendak yang sesuai dengan hati Allah. Bagian ini juga mengajarkan kepada kita bahwa, doa yang berkuasa bukan berasal dari kata-kata yang hebat, tapi dari hidup yang melekat pada Kristus dan dipenuhi Firman-Nya.

Ayat 8 : Puncak Hidup Yang Berbuah : Kemuliaan Bapa

Ayat ini menjadi klimaks dari pengajaran Yesus, tujuan utama dari hubungan yang erat dengan-Nya adalah memuliakan Bapa melalui hidup yang berbuah banyak. Yesus menegaskan bahwa hidup yang berbuah banyak merupakan tanda yang sah dan nyata dari seorang murid Kristus yang sejati. Serta melalui buah itulah Bapa dipermuliakan. Ini adalah prinsip teologis yang penting : hidup orang percaya bukan berpusat pada diri sendiri, tetapi menjadi sarana kemuliaan Allah. Kita tidak hidup untuk menunjukan siapa kita, tapi untuk menunjukan siapa Allah melalui hidup kita. Buah yang dihasilkan dari persekutuan dengan Kristus menjadi kesaksian yang memuliakan Allah. Ayat ini mengandung dorongan sekaligus evaluasi. Dorongan bahwa setiap murid Kristus dipanggil untuk berbuah bukan sedikit, tetapi banyak. Tetapi juga evaluasi : Jika kita mengaku bahwa kita adalah murid Kristus tetapi tidak ada buah dalam hidup kita, maka perlu dipertanyakan apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus? Sebab buah adalah konsekuensi yang pasti dari persekutuan sejati dengan Yesus.

Dengan demikian ayat 8 ini tidak hanya menutup bagian sebelumnya, tapi juga merangkum seluruh ajaran Yesus tentang tinggal di dalam Dia : hanya dengan hidup yang melekat pada-Nya kita dapat menghasilkan buah dan hanya melalui buah itulah Allah dimuliakan dan kita menunjukan identitas sejati sebagai murid-murid Kristus

Penerapan

1. Sebagaimana ranting tidak bisa berbuah jika tidak melekat pada pokok anggur, demikian juga hidup orang percaya tidak akan menghasilkan buah jika tidak tinggal di dalam Kristus. Tinggal di dalam Kristus bukan berarti hanya percaya, tetapi hidup terhubung erat setiap hari – melalui doa, membaca dan merenungkan Firman serta menyerahkan diri kepada pimpinan-Nya. Galatia 5:22-23 menunjukan bahwa buah adalah hasil karya Roh dalam kehidupan orang percaya. Artinya orang yang tinggal di dalam Kristus akan membiarkan Roh Kudus bekerja melalui dirinya, mengubah hati, membentuk karakter dan memampukan ia untuk hidup berbuah.

2. Setiap ranting yang berbuah akan dibersihkan agar berbuah lebih banyak. Pembersihan ini terjadi melalui Firman yang menegur, membentuk dan mengarahkan kita. Proses ini seringkali menyakitkan,  sebab melibatkan penyangkalan diri, meninggalkan dosa dan kebiasaan lama serta ketaatan kepada kehendak Tuhan. Banyak orang ingin diberkati, tapi tidak siap dibentuk. Dibersihkan berarti siap dikoreksi dari dosa, dibongkar dari kesombongan dan dibentuk menjadi rendah hati. Jemaat didorong untuk berani mengevaluasi diri dari Firman : Apakah ada dosa yang dibiarkan ? Apakah ada kebiasaan buruk yang belum ditinggalkan ? Hari ini jangan keraskan hati – izinkan Tuhan membentuk kita,  karena hanya ranting yang bersih yang sanggup menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya.

3. Yesus berkata bahwa Bapa dipermuliakan jika kita menghasilkan banyak buah. Maka hidup orang percaya bukanlah kebanggaan diri, tetapi untuk memuliakan Allah. Artinya setiap buah yang dihasilkan dalam hidup, baik itu kasih nyataml, kesabaran dalam penderitaan, kesetiaan dalam pelayanan kebaikan dalam relasi sosial dsb,. bukanlah untuk memperlihatkan betapa hebatnya kita sebagai orang Kristen, tetapi menyatakan siapa Allah yang kita imani. Ketika orang lain melihat hidup kita yang berbeda, mereka tidak memuji kita tetapi memuliakan Bapa di surga. Amin

Semoga Tulisan Ini Jadi Berkat :)
 

 


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Khotbah & Renungan

Yohanes 15:1-8 "Pokok Anggur Yang Benar"

  HIDUP YANG BERBUAH  DALAM KRISTUS Bahan Bacaan : Yohanes 15:1-8  Pengantar Persekutuan Jemaat yang diberkati oleh Tuhan… Kita bisa mengena...

Postingan Terbaru